GERAKAN MAHASISWA PASCA REFORMASI

FOTO NINING

FOTO NINING

REKAM JEJAK GERAKAN MAHASISWA ISLAM PASCA REFORMASI

(Disampaikan dalam Milad IMM di Aula Kampus UMMY Solok 18 Maret 2008)

I.                   NAPAK TILAS          

Indonesia beberapa dekade dikenal sebagai negeri insulindea  (kepulauan), dalam bukunya Multatuli menyebut Indonesia sebagai Insulindo yang dimaknai sebagai negeri kepulauan Indonesia. Sebagaimana arti harfiahnya, negara kepulauan secara geografis terdiri , atas beberapa pulau, khusus untuk Indonesia memiliki lima pulau besar yang dalam kajian pergerakan bangsa membawa warna pergerakan tersendiri. Kondisi kepulauan ini, memberi efek kepada sifat pergerakan dan metoda pergerakan perjuangan bangsa. Semangat altruisme dan pola perjuangan yang mengandalkan responsifitas lokal membuat perjalanan pergerakan mudah terbaca dan sangat cepat dipadamkan oleh penjajah.  Awal abad XX dengan mulai munculnya golongan pelajar, kesadaran pembaharuan pergerakan mulai timbul, maka dimulailah fase perubahan pergerakan. Yakni pergerakan Intelektual yang dimotori oleh para pemuda.

Ketika mengungkap pergerakan mahasiswa Islam ada ushul yang tidak dapat dilepaskan yakni risalah yang dibawa. Dalam menyampaikan risalah berbagai lika-liku perjalanan mesti ditempuh yang bersentuhan dengan sisi  geografis, demografi, socio cultural, self capacity  dll sehingga semua hal tersebut termaktub sebagai risalah perjuangan. Pemuda (mahasiswa) Islam  merupakan actor dalam membawa risalah. Berbagai gebrakan kaum muda Islam telah direkam oleh sejarah baru pasca reformasi, seperti  hal berikut : 

Ø  Pergerakan Perlawanan Kaum Santri terhadap Imperialisme dan kolonialisme (Abad ke 19)

 

Pergerakan ini ditandai oleh gerakan massif oleh kaum santri di beberapa daerah terhadap Belanda.

1.      Pergerakan Kaum Paderi di Sumatera Barat (1821 – 1825)

2.      Pergerakan Santri di Jawa Tengah (Dipenogoro) (1826-1830)

3.      Pergerakan dibarat Laut P. Jawa (1840-1880) pegerakan ini muncul sebagai respon atas tanam paksa di Banten.

4.      Pergerakan Santri Aceh (1873-1903)

(Sumber : Clifford Gertz,” Islam Observed: Religious Development in Marocco and Indonesia”. )

 

Ø  Pergerakan Sosial, Dakwah dan Pendidikan

Dalam berbagai referensi Sejarah (Pra-Reformasi) peran-peran keintelektualan Islam di Indonesia sejak awal terpinggirkan (distorsi) sehingga pergerakan konvensional lebih ditonjolkan. Salah satu referensi yang dipakai sejarawan Indonesia dalam kurikulum pendidikan sejarah bangsa Indonesia yaitu buku yang ditulis oleh Dr. Soetomo  “Kenang-kenangan”, Februari 1934. berikut kutipannya :

Pada penghabisan tahun 1907 datanglah Dr. Wahidin Soedirohoesodo di Jakarta, untuk meneruskan misi perjalanannya dalam mendirikan studiefonds agar anak-anak Indonesia dapat meneruskan pelajarannya. Beliau mengarahkan pemikiran mahasiswa STOVIA  bahwasanya dibutuhkan perhimpunan yang memikirkan keselamatan dan kemajuan tanah Jawa dan Madura dengan penduduknya. Beliau seolah-olah membangunkan Boemipoetera dari tidur nyenyak beratus-ratus tahun.   

 

Pada tanggal 20 Mei 1908 maka berdirilah sebuah vereeniging yang dinamakan “BOEDI OETOMO”. Basis pergerakan intelektual dan penekanan terhadap perbaikan pendidikan menjadi trendsetter Boedi Oetomo. Berdirinya Boedi Oetomo menjadi momentum tumbuhnya organisasi pergerakan mahasiswa baik yang bersifat eksternal maupun internal, karena tiada lama berselang perhimpunan lainnya  mulai berdiri dengan nama Ambtenaren di Magelang, Kweekschool voor Inl. Onderwijzers di Jogjakarta dan Burgelijke Avondschool di Surabaya. Pada saat itu Boedi Oetomo belum mengarah pada pergerakan politik karena pada saat itu Undang-Undang Pemerintahan Kolonial melarang keras Boemipoetera melaksanakan aktifitas politik. Sebagaimana diatur dalam pasal III Peraturan Pemerintah yang berbunyi :

            Segala perserikatan dan perkumpulan yang mengandung politik, atau yang mermbahayakan ketertiban umum terlarang didalam di Hindia Belanda. Pelanggaran atas larangan ini dicegah dengan upaya-upaya yang perlu dalam tiap-tiap hal itu.

 

Sebenarnya jauh sebelum Budi Utomo lahir, pemuda Islam telah memulai gerakan intelektual yang tidak berafiliasi pada politik, dengan data berikut :

 

TAHUN

GERAKAN

(Organisasi Gerakan)

TOKOH

>>1900

Surau Jembatan Besi Padang Panjang 

Syeikh Abdullah

               >1900

Sumatera Thawalib

Dr. Abdul Malik Karim Amrullah. Syeikh Daud Rasyidi. Laby el Junusi. Syeikh Ibrahim Musa Parabek.

             1905

Sarekat Dagang Islam –

Samanhudi

             1905

Al Jamiatul Khoiriyah –

 

             1912

Muhammadiyah –

K.H. Ahmad Dahlan

             1916

Al-Irsyad –

Ahmad Sukarti al Anshori

             1916

Matlaul Anwar

 

             1923

Persatuan Islam (Persis) –

K. H Zamzam

             1926

Nahdlatul Ulama

Syeikh Hasyim Asya’ri

             1930

Al Jamiatul Washliyah

Abdurrahman Sjihab, Arsjad Thalib Lubis, Udin Sjamsuddin, Adnan Lubis dan Bahrum Djamil.

 

 

 

 

 

 

Ø  Gerakan PolitiK

TAHUN

GERAKAN

(Organisasi Gerakan)

FOCUS TARGETTING

1923

Partai Syarikat Islam (PSI)

Transformasi dari Sarekat Islam, Sarekat Dagang Islam.

1932

Persatuan Muslimin Indonesia

Bersifat non-cooperatif, dan anti terhadap adat istiadat minangkabau. Dibubarkan pada tahun 1934.

1934

Partai Arab Indonesia

Wadah bagi turunan Indonesia-Arab untuk berjuang bagi tanah air. Pimpinan A.R. Baswedan

1937

Majelis Islam A’la Indonesia

Wadah federasi Kumpulan Islam yang diprakarsai oleh K.H. Dahlan dan K.H. Mas Mansur

1938

Partai Islam Indonesia

 

1943/1944

Madjlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)

Pengganti M.I.A.I di zaman penjajahan Jepang sebagai gerakan non politik

1952

Partai Politik Islam

Berasal dari NU dengan pimpinan Wahab Chasbullah dan Wahid Hasyim dll.

1968

Partai Muslimin Indonesia (Parmusi)

Menampung aspirasi bagi umat Islam yang belum berpartai.

            Sumber : Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif, Penulis MR. Kurnia, dkk. Penerbit

   Pustaka Al-Azhar, 2005

 

 

Ø  Pergerakan Pelajar

 Pelajar Islam indonesia (P.I.I independen): Ikatan Pelajar Nahdtul Ulama (IPNU, bawahan NU) Sarikat pelajar Muslimi Indonesia (Sepmi, Bawahan P.S.I.I) Ikatan Pelajar Muhamdiyah (IPM. Bawahan Muhamadiyah)

 

Ø  Pergerakan Mahasiswa

Pergerakan Mahasiswa Islam indonesia P.M.I.I. bawahan N.U); Sarikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMMI) Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Germahii) Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gema Pembebasan dan lain sebagainya.

 

                                                           

II.    SEKILAS GERAKAN 1998

 

Di akhir tahun 1997 Indonesia mengalami resesi ekonomi sebagai akibat dari kewajiban untuk membayar hutang luar negeri yang sudah mengalami jatuh tempo. Dampak dari krisis ekonomi di Indonesia yang berkepanjangan ini adalah naiknya harga-harga sembako. Bulan-bulan berikutnya ditahun 1998 adalah malapetaka bagi rejim Orba. Tidak seperti yang banyak dibayangkan oleh pakar-pakar politik, perlawanan massa berkembang sedemikian cepat dan masif di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia. Posko-posko perlawanan sebagai simbol perlawanan terhadap rejim muncul diberbagai kampus dan dalam kesehariannya posko ini sangat disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang politis sifatnya seperti rapat-rapat koordinasi, pemutaran film-filim politik, dll. Tak nampak lagi kultur mahasiswa yang sebelumnya apatis, hedon, cuek, dll (penelitian 1978 oleh Sarlito mahasiswa yang tergolong aktivis 7,2 %, sedangkan 91,8 % non-aktivis) . Hampir di setiap sudut kita dapat menemukan mahasiswa yang berbicara tentang politik, benar-benar sesuatu yang baru!

Puncak dari tindakan represi ini adalah dengan ditembaknya 4 mahasiswa Univ. Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Penembakan ini memicu kemarahan massa rakyat, yang representasinya dilakukan dalam bentuk pengrusakan, penjarahan di beberapa tempat di Indonesia. Praktis dalam 2 hari pasca penembakan, Jakarta berada dalam kondisi yanag tidak terkontrol. Mahasiswa kemudian secara serempak menduduki simbol-simbol pemerintahan lembaga legislatif beberapa hari kemudian (18 Mei), yang dilakukan hingga Soeharto mundur.

Bentuk-bentuk perlawanan Organisasi mahasiswa pada saat itu adalah membentuk komite-komite aksi ditingkatan kampus yang bergerak bersama elemen eksternal serta massa rakyat untuk menuntaskan Rejim Orba.

Tanggal  21 Mei 1998 Gerakan Mahasiswa yang di dukung oleh rakyat mampu melengserkan Soeharto dan menghasilkan amanat reformasi.

 

Amanat Reformasi 1998 :

1.                     Amandemen UUD 1945

2.                     Penghapusan Dwi Fungsi ABRI

3.                     Pemberantasan KKN dan adili antek-antek orde baru

4.                     Pembudayaan Demokrasi

5.                     Penegakan Hukum dan Supremasi Hukum

6.                     Otonomi Daerah

 

 

 

III.             Gerakan Mahasiswa Islam Pasca Reformasi

 

Berada dalam posisi pasca reform didahului  proses pengisian masa peralihan dari Pra-reform.

Gerakan Pra-Reform lebih bersifat penentangan terhadap pengkebirian hak-hak umat Islam dalam memenuhi kebutuhan beribadah dan sekaligus penentangan terhadap kebijakan pemerintah yang inkonstitusional, beberapa gerakan yang muncul seperti :

*      Gerakan anti asas Tunggal oleh aktivis Muslim: Tj Priok, Lampung, dll

*      Oposisi umat Islam terhadap Orde Baru. (penangkapan aktivis-aktivis Muslim: Abdul Qodir Jaelani, AM. Fatwa, Tony Ardi dll )

*      Penolakan pemerintah terhadap jilbab

*      Timbulnya idiom  SARA

 

Terlaksananya reformasi maka penyampaian risalah (ideology) mulai dapat dilaksanakan sebab dari sisi policy pemerintah telah memperoleh pressure efect , namun proses peralihan ini mengalami perlambatan, terkait instabilitas object (pemerintah) maupun instabilitas subject (pelaku pergerakan). Bahkan perjalanan reformasi mendekati jalan ditempat.

 

 

Mekanisme transisi politik dari pemerintahan ortoriter ke demokratis ada empat model yang berkembang (Huntington, 1991) :

1)      Model transformasi (transformation).

Dalam hal ini, inisiatif demokratisasi berasal dari pemerintah. Pemerintahlah yang melakukan liberalisasi sistem politik.

2)      Model replasi (replacement).

Model ini terjadi ketika pemerintah yang berkuasa dipaksa untuk meletakkan kekuasaannya dan kemudian digantikan oleh kekuatan oposisi (sipili).

3)      Model transplasi (transplacement).

Model ini merupakan gabungan dari dua model yang sudah disebutkan di atas. Model ini terjadi karena pemerintah yang berkuasa masih kuat, sementara pihak oposisi belum terlalu solid untuk menjatuhkannya. Maka diupayakanlah berbagai proses negosiasi antara pihak pemerintah dan pihak oposisi tentang bagaimana langkah-langkah yang harus diambil bersama untuk mewujudkan sistem politik yang demokratis secara gradual.

4)      Model intervensi (intervention).

Model ini terjadi disebabkan oleh keterlibatan pihak eksternal yang turut campur. Contoh kasus yang paling tepat barangkali adalah intervensi angkatan perang AS terhadap pemerintahan Panama dengan tuduhan keterlibatan jaringan perdagangan obat bius. Intervensi akhirnya mendorong dilaksanakan pemilu yang demokratis.

 

Reformasi Indonesia tidak mewakili secara tepat pola-pola diatas, gerakan 98 menyerupai model replasi sedangkan transisi pasca 98 berjalan menyerupai model transplasi.

Sedangkan fenomena gerakan mahasiswa Islam secara general belum menunjukkan arah yang mencerahkan. Beberapa kondisi yang dialami pergerakan mahasiswa Islam :

a.       Euphoria Reformasi

Reformasi telah merubah segalanya ! merupakan paradigma yang terbentuk dalam diri aktivis muslim, sedangkan mandat reformasi “dititipkan” pada pihak-pihak yang terindikasi pada neo-orba. Sehingga bergelimpanganlah idle potention yang menjadi kuburan pergerakan mahasiswa muslim.

 

b.      Benturan Horizontal

Munculnya haroqah  Islam satu sisi memperlihatkan dinamika apik yang berkembang dalam ranah pergerakan, namun sangat disayangkan haroqah islamiyah yang muncul di Indonesia menjadi counter block antara satu dengan yang lainnya. Inilah yang kita khawatirkan, tumbuhnya haroqah Islamiyah memunculkan potensi konflik antara satu dengan yang lainnya.

 

c.       Ekslusivisme

Jargon mahasiswa untuk rakyat menjadi hampa, dan amanah mahasiswa Islam menjadikan islam sebagai rahmatan lil’alamin. Delapan puluh tujuh tahun yang lalu hal ini telah dikhawatirkan oleh guru bangsa Indonesia yakni H. Agussalim, ketika organisasi pergerakan telah berjamuran tumbuh dan membawa karakter-karakter tersendiri, secara riil belum berpengaruh besar terhadap rakyat bahkan semakin menjauh dari rakyat. Sebagaimana kutipan pidato beliau yang disampaikan di waltevreden, oktober 1919 :

 

”Hendaklah  anak-anak bangsa yang berpendidikan mendekati dan memasuki perserikatan-perserikatan rakyat, untuk membagikan sedikit ilmunya kepada khalayak ramai. Jika hal itu dilaksanakan dengan sebaik mungkin maka dalam jangka waktu yang tidak terlalu jauh akan bertambah  masaklah pergerakan rakyat dan semakin berarti perkumpulan-perkumpulan yang dibuat dalam masyarakat.

 

d.      Soulines of movement (Pergerakan tanpa ruh)

Pergerakan mahasiswa Islam terancam kebekuan ketika risalah yang dibawa tidak melekat dan tidak tercermin dari kepribadian, Islam hanya topeng bagaikan pemanis buatan untuk melengkapi orasi kosong, maka lambat laun pilar peradaban akan roboh dengan sendirinya (Fathi Yakan).

 

 

e.       Dis-Orientasi Gerakan

Munculnya ketidakpercayaan diri dari Gerakan Mahasiswa Islam dalam mengangkat isu-isu ke-Islaman baik bersifat local ataupun dalam skala yang lebih luas (regional-global). Hal ini menjadi jebakan bagi aktivis muslim yang memudarkan identitas hakiki yang mesti mendominasi pergerakan.

 

f.       Gerakan Reaksioner

Gebrakan yang dilakukan mahasiswa muslim cenderung tiba-tiba dan sesaat, sehingga tahapan-tahapan yang terkait dengan misi pendukung tidak terlihat jelas. Muncul sebentar kemudian lenyap.

 

IV. HARAPAN KE DEPAN

            Kondisi stagnan yang dialami oleh gerakan mahasiswa Islam sangat mengkhawatirkan umat, sebab kebangkitan Islam juga diamanahkan kepada mahasiswa Islam. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mulai memperbaiki kondisi ini :

 

a)      Perubahan baru dengan kepemimpinan baru (New Reform and New Leader)

Transisi replasi dan transplasi yang dialami oleh Indonesia dari tahun 1998 tetap memberi celah bagi antek-antek neo-orba untuk berkembang, bahkan ironisnya disodorkan untuk menjalankan mandate reformasi. Indicator terbesar  yang mengakibatkan reformasi jalan ditempat yakni reformasi dijalankan oleh warisan penguasa lama.

 

b)      Dialog Bilateral dan dialog antar generasi

Keragaman merupakan realitas sejarah sehingga bukanlah solusi dengan menghapusnya, tetapi yang lebih baik untuk dilakukan dengan mengurangi ekses negative yang ditimbulkan. Walaupun nantinya dalam dialog tidak menemukan kesepakatan bersama, setidaknya hal tersebut menjadi langkah yang memudahkan untuk berbagi dan saling memahami.

Pentingnya dialog antar generasi menyimak sering putusnya transfer informasi, sehingga perombakan dan bongkar pasang metode sering terjadi, secara sistematis memperlambat pencapaian akhir.

 

c)      Egalitas Gerakan (Membumikan Gerakan)

Merubah paradigma gerakan  mahasiswa tertutup dalam kelompok yang terbatas, fungsi mengayomi dan ketawadhu’an menjadi kunci dalam mengurangi gap yang muncul antara gerakan mahasiswa dengan social masyarakat.

 

d)      Gradualisme

Strategi gerakan yang umum digunakan oleh umat Islam ada tiga yakni : structural strategic, cultural strategic, social reform strategic. Semua strategi tersebut mesti dilakukan dengan tahapan-tahapan yang jelas dan konkrit.

 

e)      Perbaikan Dzatiyah

Semua aktivis muslim melakukan pergerakan sebagai bagian ibadah kepada Allah, dan dalam memegang risalah ini tidak cukup dengan kematangan intelligence saja tetapi perlu pengisian spiritual yang terus menerus.

 

 

 

Wallahu’alam…..

 Wassalamualaikum. W. W.

About these ads
Categories: gerakan mahasiswa | Tags: | 2 Komentar

Post navigation

2 thoughts on “GERAKAN MAHASISWA PASCA REFORMASI

  1. Sejarah gerakan intlektual menjadi seru tatkala diliputi idealisme yang kokoh. hampir perubahan besar yang terjadi di muka bumi ini dilakukan dan dipelopori oleh kaum intelektual/ mahasiswa. keberhasilan dan historical gerakan mahasiswa dipicu oleh momentum yang pas. akan tetapi juga sering dikecewakan pasca gerakan banyak terjadi perlingkuhan kepentingan. setelahnya banyak yang melupakan sejarahnya. lihat bagaimana praktik pemerintahan pasca reformasi / pem otoda budaya korupsi kian menjamur dan terbuka. itu artinya gerakan mahasiswa sekedar mengantar barisan anti korupsi menjadi barisan antri korupsi. peluang mana, ayo kita jadikan memontum gerakan mahasiswa untuk penegakan dan supremasi hukum.

  2. Assalamu’alaikum,
    Salam kenal ya
    Blogny lumayan,
    wassalamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.005 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: