Refleksi Kebangkitan Idealisme Mahasiswa

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

SUASANA politik tanah air tetap memanas. Dialektika politik kian hari kian merasuki semua sendi kehidupan rakyat Indonesia di segala lapisan. Dari semua itu, geliat pergerakan mahasiswa melahirkan fenomena menarik dan patut diperhatikan. Bukan apa, mahasiswa dengan kekuatan moralnya telah terbukti menjadi kekuatan berpengaruh sejak zaman pra kemerdekaan sampai saat ini.

Bagi mahasiswa dengan segudang idealismenya, mencapai sebuah kemajuan tidak mengenal kata akhir. Untuk itu, sikap kritis dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada harus selalu melekat pada diri mahasiswa. Dengan sikap tersebut sama artinya mahasiswa telah menempatkan diri sebagai oposisi nonstructural(oposisi yang jauh dari politisasi) yang bisa mendatangkan manfaat bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan jika sikap oposisi ini dilakukan secara bersama-sama, pasti bisa mendatangkan kekuatan berlipat ganda untuk mempercepat perbaikan bangsa.idealnya sperti itu.

Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa — sebagai perpanjangan aspirasi rakyat —- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan.

Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.yang pada akhirnya kita dapat menganalogikan gerakan mahasiswa tersebut sebagai pergerakan seorang koboi ,dimana ketika terjadi distorsi ditengah masyarakat yang melibatkan pemerintah, sang koboi yang datang dari daerah antah barantah berjuang berlandaskan hati nurani dan kemudian setelah perjuangannya usai dalam artian mencapai tuntutan masyarakat sang koboi akan balik kekandang tanpa mengharapkan balasan dari new govermens atau masyarakat setempat.

Jadi merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa untuk berjuang ketika terjadi pembodohan dan penindasan oleh penguasa karena mahasiswa adalah ikon sekaligus motor pergerakan dalam menghadapi kesewenang wenangan,hal ini mengingat bahwa mahasiswa diberi kelebihan berfikir melalui pola pola yang lebih intelektual dalam konteks memulai dan mengakhiri pergerakan dengan cara yang indah dalam upaya mengurangi distorsi kepentingan pribadi dan kelompok menuju kepentingan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Categories : Opini
Categories: gerakan mahasiswa | Tags: | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Refleksi Kebangkitan Idealisme Mahasiswa

  1. hapannya idealisme mahasiswa tidak boleh pupus setelah tidak lagi jadi mahasiswa. jadi apa saja, idealisme terus terpelihara agar dunia ini tetap baik. mochammadrifai@yahoo.co.id

    • niningprasetya

      bener bro.kita akan tetap kukuh dengan idealisme kita kalo kita punya ideologi yang jelas. so, pilihlah ideologi yang jelas, biar ga takut kalo idealismenya luntur.
      kapan kompas terbit?maaph..lum bisa bantu.gek mumet golek duit ki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: