SALAH KAPRAH PERJUANGAN FEMINISME

Sebagian kaum perempuan aktif dalam perjuangan persamaan hak dengan kaum laki-laki atau yang lazim disebut kesetaraan gender.Sebagian besar perempuan yang sedang berjuang itu adalah para perempuan yang merasa sudah “merdeka”. Biasanya mereka itu dari kalangan Wanita Karir yang sukses, punya prestasi, punya background pendidikan yang tinggi. Dan mereka tetap giat berjuang atas nama semua perempuan yang masih “terpasung”
Perjuangan untuk menuntut kesetaraan hak wanita, muncul pertama kali di barat pada abad ke 18. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh buruknya perlakuan terhadap wanita yang secara social budaya telah mengakar selama berabad-abad lamanya. Misalnya di dalam budaya Persia, jika wanita yang sedang haid, dianggap kotor dan diusir dari rumah. Budaya yahudi menganggap bahwa wanita makhluk kotor dan hanya penyebab timbulnya dosa, sedangkan budaya Kristen mengaggap wanita sebagai dewi sekaligus budak dan ia layak dibunuh oleh suaminya. Wanita juga tidak memiliki hak untuk terlibat dalam pemerintahan dan tidak memiliki peran-peran sosial. Karena mitos umum waktu itu telah menganggap wanita sebagai makhluk yang hanya punya nafsu dan tidak punya akal.
Penempatan posisi wanita dengan status sosial rendah dan juga diskriminasi yang terjadi dalam masyarakat barat waktu itu, akhirnya melahirkan pejuang wanita yang ingin membela kepentigan kaumnya dari penindasan tersebut.merekalah yang kemudian dinamakan para feminis. Namum, pada akhirnya perjuangan mereka semakin emosional dan sangat radikal.bahkan mengabaikan fitrah manusia. Misalnya para feminisme radikal yang menampikkan keberadaan laki-laki dalam kehidupan wanita. Mereka menganggap laki-laki sebagai musuh dan pesaing. Padahal, wanita dan pria diciptakan dengan spesifikasi masing-maisng. Lelaki tidak akan mampu menggantikan fungsi wanita sebagai ibu karena secara fitrah, wanita memang didesain untuk menjadi seorang ibu, untuk menyusi anak-anaknya, membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Apakah mungkin peran wanita seperti hamil dan menyusi akan digantikan oleh laki-laki?
Pemahaman emosional seperti inilah yang justru menjadi bumerang bagi kaum feminis sendiri. Selama mereka masih beranggapan bahwa laki-laki adalah musuh dan pesaing, bukan mitra yang harus diajak untuk berkerja sama, maka mereka akan selalu menuntut untuk pada posisi yang lebih tinggi dari laki-laki.
Dampak dari feminisme ini, dalam sekala global justru sangat merugikan. Di barat, banyak bermunculan wanita-wanita yang enggan berumah tangga. Mereka lebih menyukai hubungan bebas dan tidak mau punya anak. Mereka manganggap, berkeluarga membuat mereka terpasung dan tidak merdeka untuk beraktualisai diri. Banyak keretakan rumah tangga dalam berumah tangga karena wanita tidak mau mengurus rumah tangganya. Mereka lebih menyukai untuk menjadi wanita karir dan menelantarkan keluaragnya. Bahkan di jerman, akibat tumbuh suburnya paham feminisme, jumlah kelahiran semakin menurun dan tidak dapat mengimbangi besarnya angka kematian. Jika hal tersebut berlangsung sampai 50 tahun ke depan, maka jerman akan menjadi Negara penampung manusia jompo.
Masalah yang terus-menerus tentang emansipasi sebenarnya bukan karena laki-laki menjadikan wanita sebagai objek, melainkan karena perempuan sendiri yang berlaku demikian. Selalu berteriak akan persamaan hak. Dalam parlemen di Indonesia ada sekelompok pejuang perempuan yang meminta “quota” 30% dalam keanggotaan legislatif, minta daftar nama perempuan di taruh di barisan atas dalam pemilihan. Bahkan iklan tentang ini banyak diekspos di televisi. Ini justru sangat bertentangan dengan perjuangan feminisme. Sebab kalau meminta “quota” artinya kaum perempuan ini yakin tidak mampu bersaing secara normal/ fair dengan laki-laki dalam dunia politik, sehingga perlu “quota”. Apabila para aktivis perempuan ini yakin betul bahwa kaum kemampuan perempuan sejajar dengan laki-laki mengapa tidak bersaing secara fair saja. Iklan tersebut menggambarkan unsur pemaksaan dan mengarah kepada sifat KKN. Sehingga kemudian kita mendapati bahwa iklan tersebut merupakan sebuah ironisme dari perjuangan perempuan yang selama ini digembar-gemborkan.
Sebenarnya di Indonesia, kesetaraan gender sudah sangat baik, lihat saja Megawati, seorang perempuan yang menjadi Presiden. Ada Sri Mulyani seorang professional handal yang menjabat sebagai menteri Perekonomian. Sangat mengherankan bahwa kaum feminis Indonesia tidak merasa terwakili oleh prestasi yang diraih mereka ini. Dilain sisi ada banyak sekali wanita karir di Indonesia yang merangkap menjadi ibu tetapi sukses dalam pekerjaannya. Profil-profil tersebut sudah menggambarkan bahwa perempuan mempunyai andil hebat dalam politik dan perekonomian Negara Indonesia.
Yang seharusnya menjadi fokus perjuangan para aktivis feminis adalah perang melawan pelecehan dan eksploitasi terhadap wanita. Industry yang dimotori oleh kapitalisme telah menempatkan wanita sebagai obyek, yang secara tak sadar, menjadi ladangeksploitasi. Iklan tak akan laku, jika tidak ditampilkan oleh wanita cantik yang berbusana minim. Iklan sepeda motor, mobil mewah, selalu identik dengan wanita cantik berbaju minijm. Padahal, kedua barang tadi tak ada hubungannya dengan baju atau kecantikan tubuh.
Tak jauh dari itu, solusi yang digulirkan feminis dalam mengentaskan keterpurukan wanita juga bersifat parsial dan sementara. Wanita dibebaskan merambahi sektor publik dengan kebebasan berekspresi dalam memilih pekerjaan. Tak ayal, banyak sekali wanita yang terjerumus ke lembah hitam untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Wanita malah dijadikan objek eksploitasi industri, hiburan, bahkan objek seksualitas.
Akibatnya, prostitusi dan penyakit seksual merajalela, aborsi menggejala dimana-mana, kematian pun kerap menghantui perempuan dengan jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) menyentuh angka 300 per 100.000 orang. Selain menyebabkan rusaknya tatanan sosial, ternyata institusi keluarga pun terancam. Ini dibuktikan dengan angka perceraian yang cenderung meningkat, dan ternyata hal ini berbanding lurus dengan jumlah wanita yang terjun ke dalam sektor publik.
Ibarat pepatah, keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Begitu pula solusi yang ditawarkan kaum feminisme dengan gerakan kesetaraan gendernya seolah tidak membawa perubahan berati bagi perempuan, malah menambah derita.
Kesalahan Logika Feminisme
Cara pandang individualis dan emosional serta menyingkirkan logika sepertinya telah merasuki para penggiat perempuan. Mereka memandang bahwa masyarakat terdiri dari kumpulan individu yang bebas satu sama lain, laki-laki dan perempuan. Feminisme memandang masalah perempuan terlepas secara keseluruhan dari jalan harmonisasi masyarakat dalam kehidupan manusia. Akibatnya, penyelesaian yang disodorkan pun hanya dilihat dari satu sisi saja, yakni perspektif perempuan.
Pada faktanya, masyarakat terdiri dari kumpulan individu (laki-laki dan perempuan) yang berinteraksi menggunakan pemikiran, peraturan, serta adanya perasaan yang melingkupinya. Oleh karena itu, masyarakat adalah perangkat dinamis yang didalamnya tercipta pemikiran, dan peraturan yang kemudian membentuk pola relasi dalam masyarakat. Sehingga jika ada permasalahan timbul di masyarakat haruslah dipandang secara sistemik dan holistik, bukan dengan pandangan parsial.
Begitu juga dengan masalah perempuan, potret buramnya dihiasi dengan kebodohan, kemiskinan, marginalisasi, dan diskriminasi upah adalah akibat pelaksanaan hukum yang tidak adil. Buktinya, hal ini tidak hanya menimpa perempuan. Laki-laki, anak kecil, tua dan muda pun ikut merasakannya. Sebuah penelitian membuktikan 40% penduduk Indonesia miskin. Tentunya ini melingkupi masyarakat Indonesia, sekali lagi bukan hanya perempuan.
Jika kaum feminis tidak juga mengubah cara pandangnya tentang permasalahan sebenarnya, maka usahanya selama ini akan sia-sia dan tak berarti. Karena yang dibidik bukanlah akar permasalahan perempuan, tetapi hanya cabang dan ranting dari inti permasalahan secara keseluruhan.
Wanita dan laki-laki memiliki kekhasan yang tidak dimiliki satu sama lain. Aspek fisiologis dan psikologis yang dimiliki satu sama lain berbeda namun keduanya saling melengkapi. Tidak menjajah atau memarjinalkan satu sama lain, karena keduanya adalah rekan dalam membangun bangsa. Dengan pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing, manusia mampu menjadi pemimpin di wilayahnya juga dimasyarakat dalam rangka membangun negara dan mengelola alam semesta.

Sejak awal perkembangan islam di mekah dan madinah, islam telah menunjukkan perhargaan yang tinggi terhadap wanita. Tak ada diskriminasi antara wanta dan pria, mereka diberikan hak sesuai denga fitrahnya. Karena laki-laki dan perempuan memang diciptakan dengan kapasitas yang berbeda. Wanita memilki hak yang sama untuk memperolah pendidikan. Dapat dilihat,bahwa pada zaman rosululloh banyak terlahir wanita-wanita hebat sperti aisyah yang seorang ilmuwan dan politikus, ada khodijah yang seorang pengusaha, AL KHONSA yang merupakan seniman kelas dunia pada zamannya.sejak 14 abad yang lalu, eghargaan terhada wanita dan keadilan yang dirasakan oleh kaum muslima telah terbukti di bawahnamunga khilafah islam.
Peran Utama Wanita Muslimah
Dalam rumah tangga, pekerjaan utama wanita adalah mengurus keluarga dana anak-anaknya. Mereka tidak mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah. Karena beban mencari nafkah sudah dipikulkan kepada laki-laki. Namun jika wanita ingin membantu suaminya untuk mencari nafkah maka hal tersebut boleh-boleh saja bahkan bernilai ibadah. Dengan catatan, ia tidak menelantarkan keluarganya. Di tangan merekalah kelk akan terlahir sebuah generasi. Peran wanita dalam mencetak hitam putihnya generasi ini tidak bsa diabaikan. Oleh karena itu,sudah selayaknya mereka memiliki waktu yang cukup untuk keluarga dan anak-anak mereka.
Peran aktif wanita dalam rumah tangga, bukan berarti membelenggu mereka untuk tidak dapat beraktualisasi diri. Telah banyak wnaita-wanita hebat yang terlahir sebagai muslimah fdan mereka dapat mencetak prestasi hebat, justru karena spirit keimanan yang menggelora di dalam iwa mereka. Aisyah adalah seorang ilmuwan hebat, pemikir, ahli politik, dan juga periwayat hadis. Bahkan, hampir tak ada pertanyaan para sahabat yang tidak dapat dijawab olehnya, karena luasnya samudra ilmu yang ia kuasai. Hal diatas menunjukkan bahwa seorang wanita musliumah, bisa saja lebih pandai dari laki-laki dan hal tersebut telah dibuktikan 14 abad silam oleh aisyah. Di sisi lain aisyah juga seorang istri, yang harus melayani jebutuhan keluarganya. Ia penyayang kepada suaminya, megerjakan sendiri pekrjaan rumah tangganya,
Menurut Ari Purbono, anggota DPRD dari komisi X, yang juga pengasuh pesantren penghafal alqur’an Adzikro, feminisme merupakan paham yang tidak pas untuk diterapkan di kalangan muslim. Karena islam sejak 14 abad yang lalu, telah memilki aturan yang sangat kompleks untuk mengatur wanita. Menurutnya, Islam menempatkan wanita dalam posisi yang sangat mulia. Bahkan dalam sebua hadis disebutkan, bahwa surga ada di telapak kaki seorang ibu.
Masih menurut Ari,, antara wanita dan pria dalam berumah tangga, tak ada prinsip mendominasi dan didominasi. Yang ada, hanyalah pemimpin dan yang dipimpin. Masing-masing anggota keluarga harus mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Menjadi ibu rumah tangga bukan lah sebuah pilihan yang buruk. Itu adalah tugas utama seorang wanita.bukan berarti, ketika sudah menjadi ibu rumah tangga, ia tak dapat beraktualisasi diri atau menjadi wanita karir. Seorang ibu misalnya bisa mengambil pembantu untuk membantu mengurus rumah tangganya, akan tetapi, ia juga tak boeh melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri yang harus mengurus keluarga. Berkiprahnya wanita dalam dunia politik, karir, justru menjadi bukti bahwa meraka tidak kalah kualitas dibandingkan pria. Jika pada akhirnya, banyak lapangan pekerjaan yang ditempati wanita dan meggeser posisi pria, maka hal tersebut seharsnya menjadi pemicu semangat bagi pria bahwa mereka tidak boleh kalah kualitas dengan para wanita.
Fauzan, ketua PMII komisariat Unnes berpendapat bahwa, jika dilihat dari sejarahnya, munculnya feminisme adalah uuntuk memperjuangkan hak perempuan yang telah terdzalimi. “ selama semangat operjuangannya masih tetap memperhatikan kodrat wanita, kita hars dukung” ungkap Fauzan.ia mengaku resah, dengan feminisme salah kaprah, yang menunut persamaan hak wanita dan pria, namun mengabaikan sisi-sisi kewanitaan.

Categories: Uncategorized | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: