SATU BINTANG

SATU BINTANG

oleh : Nining

Bagiku bintang adalah kehidupan. Yang membuatku masih bertahan untuk menatap masa depAn. Yang membuat kakiku semakin kuat berpijak diatas bumi, meninggalkan semua puing-puing masa lalu dan sekuat tenaga membangun masa depan.

Hari ini aku sengaja tak berangkat kerja. Aku sudah ijin pada bosku dengan alasan tak enak badan. Aku sengaja ingin menghabiskan hari ini bersama gadis kecilku yang sekarang genap berusia empat tahun. Toh selama ini aku tak pernah membolos kecuali hari libur ,hari sabtu dan minggu.Bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta memang tak cukup layak bagiku. Apalagi aku lulusan terbaik dari universitas bergengsi. Seharusnya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini. Namun pikirku waktu itu adalah supaya aku dapat bekerja kembali dengan cara yang halal saja, kerja apapun tak masalah. Yang penting aku bisa membiayai hidup dengan hasil keringatku sendiri.setelah memeutskan untuk pulang dari Kalimantan, tentu saja aku tak punya pengahasilan. Sisa gajiku hanya mamu untuk bertahan sekitar empat bulan.

“Ayah, kita pulang saja ya yah…bintang udah capek. trus nanti ga bisa ajak bintang main lagi deh” kutatap matanya yang sangat mirip dengan seorang wanita yang hadir di masa laluku…kania..

“ayah menangis?”tangan yang mungil itu menyentuh pipiku dengan lembut.”ayah jangan sedih ya…maafin bintang ya ayah kalo bintang udah bikin ayah sedih” aku memeluknya erat. Hatiku semakin pilu. Rasa bersalah kian menyesak dalam dadaku.kania maafkan aku…

“bintang ga bikin ayah sedih kok sayang…ayah sayang banget sama bintang. Kita pulang yuk sayang” kugendong bintang di punggungku. Jarak dari taman ke rumah orang tuaku tak begitu jauh, aku menggendong bintang sambil berlari. Bintang tertawa renyah, akau suka dengan teratwanya yang indah, yang lebih menangkan hatiku dari pada suara musik Mozart, bintang…ayah tak ingin melepaskan kamu sayang..

######

Peristiwa malam itu di kamar kania, telah membuat hidupnya benar-benar berubah. Suatu hari, dua minggu setelah kejadian malam itu kania bilang ia hamil. Dengan terisak-isak ia datang ke kontrakanku. Ia menunjukkan alat tes kehamilan , dan dua garis merah sejajar itu menunjukkan bahwa ia positif hamil. Aku shock, kania terus menangis sesenggukan, sambil marah-marah. Aku semakin kalap. aku jelas tak siap jika harus menikahinya. Aku memang telah menyandang gelar sarjana, akan tetapi aku masih belum mendapat pekerjaan yang layak. Untuk membiayai hidupku sehari-hari saja ples bayar kontrakan, kadang aku masih meminta subsidi dari orang tua. Gaji dari hasil mengajar les privat bahasa inggris, tak cukup untuk membayai hidupku, apalagi jika harus menanggung hidup kania dan bayi yang akan lahir itu. Aku stress..tak tau harus berbuat apa. Jika orang tuaku tau, mereka pasti akan memberhentikanku sebagai anak. Aku tak rela…aku sangat menyayangi mereka berdua.

Kania memang cantik, langsing, kaya, pintar pula. Banyak laki-laki yang mengejarnya, tapi entah kenapa dia justru memilihku. Semua mata tertuju padanya jika ia melintas di kerumunan orang. Mata lelaki mana, yang tak akan melirik melihat betis putih mulus dan dandanan metropolis? Kania benar-benar mencerminkan style wanita muda metropolitan. Tapi aku tak yakin aku mencintainya. Aku hanya mengejar gengsi belaka. Mendapatkan kania adalah sebuah prestis di kampus. Bahkan, aku telah memenangkan taruhan dengan mendapatkan kania. Aku memang jago dalam hal merayu wanita, dengan modal tampangku yang agak keindoan, yang kata teman-temanku, aku sedikit mirip dengan tom cruis.

Aku menolak menikah denganya, siapa tau bayi yang ada di dalam rahimnya, bukan anakku. Lagian aku hanya melakukan sekali saja dengannya, itupun karena dia marayuku. Jika akhirnya dia hamil, maka sudah sewajarnya ia menanggungnya sendiri. Kania memang bukan wanita baik-baik. Mana mungkin wanita baik-baik tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya.

Untuk kesekian kalinya dia mendatangi kontrakkanku, ia protes karena aku tak bisa dihubungi.Aku telah ganti nomor. Aku muak dengan sms-sms kania yang seolah terror buatku. Ia merengek-rengek minta dinikahi. Ia pun berjanji akan menjadi istri yang baik, asalkan aku mau bertanggung jawab untuk menjadi ayah dari anak di dalam rahimnya. Tapi aku tetap tak yakin kalau itu adalah anakku. Aku tau betul perangai kania sebelumnya. aku masih tetap berpikir Ia bukan wanita baik-baik. Aku tetap menolak. Bahkan aku bersikap lebih keras padanya. Aku tampar pipinya sampai bibirnya berdarah. Ia menangis sambil meniggalkanku dengan sumpah serapah.

“ kenapa kamu tidak minta dinikahi sama laki-laki lain yang mungkin juga menjadi bapak dari jabang bayi di dalam rahimmu? Kenapa kamu hanya minta pertangungjawaban dariku? Kamu pikir aku bodoh? Heh…aku tidak sebodoh itu. Malam itu kau memberiku minum yang memabukkan, jadi aku tak sadar ketika melakukkanya padamu” belaku

“ tapi aku melakukanya dengan kamu…percayalah” wajahnya memelas sambil sesenggukan menunduk di depanku.ia membanting pintu dan berlari menyetop taksi

###

Sudah berbulan –bulan aku tak melihatnya. Teman-temannya yang biasanya pergi ke klub juga sudah kutanyai, dan tak ada yang tau keberadaan kania. Aku lega kania telah jauh ari hidupku, paling tidak, aku merasa lega karena tak ada yang menterorku. 7 bulan sudah ia tak menampakkan batang hidungnya. Aku tak peduli. Aku sudah melupakanya. aku begitu mudah melupakannya karena aku tak menyukainya dengan tulus. Aku hanya mengejar prestis di kampus.

Aku diterima bekerja di pertamina cabang Kalimantan. Orang tuaku sangat bangga ketika aku menyampaikan berita tersebut, kedua merestui kepergianku ke kalimantan untuk mencari kehidupan di sana…”pergilah …barangkali kalo karirmu sudah bagus nanti, kamu bisa minta dipindah ke semarang saja nak. Ambil saja peluang ini, kamu belum tentu bisa mandapatkan lagi untuk yang kedua kalinya” saran ayahku.sedangkan ibuku hanya mengiyakan saja. Aku putuskan untuk pergi ke Kalimantan.

####

Telephon selulerku berdering berkali-kali. Aku sengaja mensilent. Pimpinan proyek menugasiku survey ke daerah benjarmasin. Aku tak mempedulikan hp ku. Ada tujuh kali miss call, rupanya dari ayah. Kemudian sebuah sms

“ divan, ada seorang wanita yang datang kerumah dan menyerahkan seorang bayi. Dia datang sambil menangis menanyakan kamu. Dia bilang bayi yang dibawanya adalah anakmu. Ayah tak percaya. Tapi ibumu sangat iba. Ibumu menerima saja bayi itu. Wanita itu pergi sebelum sempat meninggalkan alamat atau no telpon. Tampaknya ia sangat marah padamu, ia memanggilmu dengan sebutan bajingan.Namanya kania. Ayah minta kau segera pulang untuk menjelaskan semua masalah ini”

Deg…jantungku berdegup lebih kencang. Bagaimana mungkin masalah yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat bisa juga sampai ke telinga ayahku. Kubayangkan kemarahan ayahku akan memuncak dan bahkan mungkin tak mengakui aku lagi sebagai anak. Selama ini, aku memang anak yang selalu dibangga-banggakannya. Akau selalu bersikap manis di depam kedua orang tuaku. Aku tak pernah menanpakkan kenakalanku di depan mereka berdua. Aku ingung, menyeusun kata-kata yang nanti akan kuucapkan di depan ayah dan ibuku.

Tapi mestinya kania suah menceritakan semuanya pada orang tuaku. Kenapa baru sekarang kania senekat itu. Dulu aku tak pernah membayangkan kania akan melakukan ini. Bayanganku dulu, kania pasti akan menggugurkan kandungannya dan akan kembali dengan teman-temannya. Meskipun dia terkenal suka dugem, tetapi nilai akademisnya masih terbilang gemilang.

Seenarnya di dalam lubuk hatiku, aku sangat merasa bersalah pada kania. Meskipun di mataku ia bukan wanita baik-baik, tetapi paling tidak, aku pernah melihat ketulusan di wahjahnya ketika ia bilang ia sedang mengandung anakku. Wahjahnya tiba-tiba menjadi sangat mengiba, tak seperti bisanya yang selalu tampil arogan.

Aku berusaha membuang jauh-jauh bayangan wanita itu. Aku tak peduli. Toh,sebenarnya aku tak terlalu bersalah jika dipikir-pikir. Malam itu, aku diajaknya bersama temannyanya pergi ke club. Itu pertama kalinya aku ke club. Seingatku, waktu itu aku pesan es jeruk. Ga tau kenapa,setelah minum aku jadi mabuk. Aku masih setengah sadar ketika kania menuntunku ke rumahnya dan menidurkanku di kamarnya, rupanya dia juga dalam kondisi mabuk.

Ketika aku bangun, semuanya tampak sangat memalukan. gadis itu ada disampngku. Semua terjadi begitu cepat.

###

“ayah benar-benar tak menyangka kau sebejat itu. Ayah kira selama ini kau anak yang baik dan penurut. Tenyata di luar sana kau adalah manusia bejat!” bentak ayahku. Aku tak berani menatap mukanya yang tampak sangat marah, kemerahan dan nafasnya terngah-engah.

“sebagai laki-laki dimana tangungjawabmu, kau hamili wanita dan kau campakkan begitu saja, dimana hati nuranimu. Seandainya wanita itu adalah adikmu, apa yang akan kau lakukan terhadap lelaki itu. Ha? Dimana moralitasmu? “ suara ayahku semakin meninggi, ibuku beruasaha menenangkan ayah, tapi tetap tak berhasil. Bila sedang marah, ibu juga takut dengan ayahku.

“ sudahlah ayah, beri dia kesempatan untk menjelaskan duduk permasalahannya” aku hanya menunduk. Kujelaskan semua duduk peralahan dari awal sampai akhir, tetapi ayah tak begitu saja percaya denganku. Aku benar-benar merasa telah menghancurkan kepercayaanya yang selama ini telah terbangun.

Akan tetapi kulihat wajah ibuku yang mengendong si kecil, tampak percaya mendengarkan ceriatku dan aku yakin ibu masih menyimpan kepercayaan kepadaku. Karena selama ini aku tak pernah membohonginya. Ibuku memelukku dengan sangat erat, ia tampak sangat sedih.setelah kemarahan ayah agak reda, ibu mulai angkat bicara.si kecil masih digendongan ibuku.

Aku tak sanggup melihatnya. Dia adalah darah dagingku, benarkah dia darah dagingku, kaumati matanya mirip sekali dengan mata kania, bentuk hidungnya seperti hidungku, rambutnya lurus kecoklatan seperti rambutku. Kania….sekarang aku percaya padamu kalau anak ini anak kita. Maafkan aku kania…..

Aku menoba untuk menggendong bayiku. Dia menagis…mungkin tak sudi mempunyai ayah sepertiku. Kata itu, kania memberikn nama bintang. Bintang kejora

Aku memutuskan untuk berhenti jadi karyawan pertamina, dan aku memilih untuk membesarkan bintang dengan tanganku sendiri.

“bintang,,,kau mirip sekali dengan ayah…ayah sangat yakin kalau kamu adalah darah daging ayah…maafkan ayah nak…nanti kita akan cari bunda kamu…”bisikku dalam hati.wajah mungil bintang, semakin membuatku merasa menjadi manusia paling bejat sedunia.

Tiga tahun sudah aku mencari jejak kania, tapi belum menghasilkan apa-apa. Tema-temanya juga tidak mengetahui keberadaanya. Kania menghilang sejak dua tahun yang lalu, kata dita, teman akrab kania. Kuliahnyapun ditinggal begitu saja. Rupanya ketika ia hamil dulu, ia bingung, tak tau harus bagaimana. Ia pulang dan menceritakan semuanya kepada orang tuannya, akan tetapi orag tunya justru mengusirnya, mereka tak sudi menaggung aib, dan mereka menyuruh kania untuk menggugurkan saja. Akan tetapi, kania justru memilih untuk meninggalkan rumah dan melahirkan bayi itu, sampai berumur 1 tahun, ia serahkan kepada ibuku.

Kelak bila bintang besar, jika ia tau kejadian yang seenarnya, dia pasti akan sanat membenciku. Akulah yang mengahncurkan kehidupan ibunya.akulah yang menhancurkan kania…

Hingga pada suatu hari…

Sebuah sms dari dita “ div, aku sudah menemukan kania. Dia ada di rumah sakit. Ada berita tentang kania. Ku tunggu kamu di rumahku siang ini”

Aku langsung meluncur ke rumah dita

“ kamu hars menjenguknya div, dia sekarat, dia kena aids,sejak ia pergi dari rumah, karena ia tak diterima keluarganya, dia menjual dirinya untuk bertahan hidup. Rupanya keluarganya sudah tidak mengirimkan uang lagi kepadanya, sedang kania belum sepenuhnya bisa meninggalkan kehidupannya yang glamour. Ia juga meninggalkan kuliah dan bekerja sebagai wanita penghibur di klub malam. Ia juga menjadi pacandu narkoba. Ia pernah masuk penjara karena kasus narkoba. bintang ia titipkan di panti asuhan. Setalah ia keluar dari penjara, rupanya ia memriksakan dirinya ternyata dia positif aids. Ia tak ingin menulari bintang, makanya dia titipkan pada orang tuamu, agar diarawat dan didik dengan baik, agar kelak tak meniru jejak ibunya”

Dita teriasak-isak menceritakkannya. Aku pun tak tahan membendung air mata. Kami berdua segera meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk kania.

Ruang anggrek 4. ruang kelas tiga, wajahnya memucat, tubuhnya tinggal tulang terbungkus kulit. Bahkan aku tak lagi mengenalinya. Wanita cantik yang dulu pernah kuhancurkan masa depanya..kini tak ubahnya hanya seonggok tulang yang ditutupi selimut. Aku masih menggendong bintang,melihat aku terdiam dan menangis, bintang mengusap air mataku “ ayah jangan sedih..kenapa ayah menangis? Siapa tante yang sakit ini yah? “ Tanya bintang. sorotan matanya sama persis sperti tatapan mata kania hendrawan, perempuan yang kini tergolek tak berdaya di depanku.

“bintang, ini bunda bintang sayang…ini bundanya bintang”

“ini bundanya bintang ayah? Kata ayah bunda sangat cantik? tante ini bikin bintang takut…”air mataku semakin deras mengalir, aku memang sering mengatakan pada bintang, bahwa ibunya sangat cantik. kania memang sangat cantik, akan tetapi, penyakit aids yang mengerogoti tubuhnya, telah merusak tubuhnya hingga sekarang ia tinggal hanya berupa tulang dan kulit.

“Cium tangan bunda sayang….” Bujukku pada bintang

Kania tak kunjung sadar. Sudah 3 hari ia koma. Kata dokter ia mengalami komlikasi jantung dan liver. Sel leukositnya menurun drastic, bahkan setiap hari penyakit baru datang menyerang tubuh ringkihnya itu.Ia juga mengalami diare hebat selama 3 bulan, hingga tubuhnya menjadi tinggal tulang.

Penyakit aids yang telah meruak sisem kekeataln tubuhanya telh memebunuh kania secara pelan-pelan. Hari keempat..kania siuman. Aku segera meluncur ke rumah sakit, bersama bintang yang kubonceng sepeda motor.dita masih setia menenmani kania.ia belum beranjak dari ruah sakit sejak kania koma.

Kania sadar, aku masih disampingnya..ia menggerak-gerakkan jari tangannya. “kania…kamu sudah sadar kania?”

Kania….ini bintang ada disampingmu….

Kania melirik ke arahku dan bintang. Ia tampak sangat terkejut.

“kania tenanglah….maafkan aku kania…” kugenggam tangan kania yang kurus kering .

Muka kania merah , tapi ia tak mampu lagi bersuara lantang. “Pergi kammm….u bajingan…..mengappaa kamu datang kess sini ?kamu ingin menghanacurkan hidupku lagi? Hidupku sudah hancur, tak ada lagi yang tersisa untuk kau hancurkan” suaranya terbata-bata namun aku masih dapat mengerti dengan jelas maksudnya.terlihat jelas kemarahan yang memuncak dari wajah kania. Tubuhnya bergetar, hebat…

“aku tak ingin melihatmu lagi. Aku hanya ingin melihat anakku” lanjut kania

“kania..maafkan aku kania….aku memang sudah terlalu dalam melukai hatimu…mungkin takkan tersembuhkan. Apapun akan aku lakukan untuk dapat menebus kesalahanku padamu….maafkan aku kania..” kuciun kaki kania… “kania …sejak kamu titipkan bintang pada orang tuaku, sejak saat itu pula aku mencarimu kemana-mana. Tapi aku tidak menemukanamu. Aku ingin meminta maaf padamu. Aku merasa sangat bersalah padamu.himgga akhirnya dita menemukanmu di rumah sakit ini” kania masih tak sudi menatapku. Tapi aku yakin dia mendengarkanku

Air mata kania meleleh…

ia ingin memeluk bintang

bintang ketakutan…ia bilang bundanya seperti mayat. Kania sedih…

“bintang…peluk bunda sayang…ini bundanya bintang. Bunda sayang bintang,,,seperti ayah juga” bujukku pada bintang. Kemudian ia memeluk kania…”

Kania tersenym…senyumnya sangat manis, seperti dulu…sebelum aku mengahncurkan hidupnya.

Kania tetap tersenyum, walaupun jantungnya sudah tidak bedetak lagi….detektor jantung sudah menunjukkan garis lurus, menunjukkan kania telah tak bernyawa. Alat kejut jantung sudah dicobakan juga, tapi tak berhasil. Kania telah pergi..dengan membaa luka yang kegoreskan di hatinya….

“bunda….nanti kalau bunda sudah sembuh, bunda ikut main sama bintang dan ayah ya bun….tar kita maen di air mancur yang dekat jalan itu…nanti kita ceburin ayah di sana.hahaha..” bintang masih memeluk kania…dadaku sesak. Air mataku tak berhenti mengalir melihat sosok yang kini terbujur kaku di depanku.maafkan aku kania….aku memang tak pantas untukmu.

Categories: cerpen | Tags: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: