NGELAMAR KERJA

Lulus kuliah, kemudian membuka lapangan kerja, bisnis berkembang pesat, dan bisa mempekerjakan banyak orang, tetunya menjadi impian semua orang. Namun, tidak semua orang mampu melalui prosesnya. Pada awalnya semangat, tapi ketika sudah menemukan satu dua orang menghina, mengejek, bahkan ada orang yang iseng-iseng menyindir saja, sudah down duluan. Ini terjadi pada salah seorang temen saya. Ketika awal dia berbisnis gorengan dengan gerobak sebagai tempat mangkal, banyak temen-temennya yang menertawakan. Bahkan jika ada temennya yang lewat pertanyaannya pasti seputar “oh, sekarang jualan gorengan tho?” “walah-walah, sarjana kok jualan gorengan, mending ngelesin anak2 sekolah aja lebih bersih dan terhormat” “ jadi pelayan restoran aja, kan juga bisa partime, bersih pula”, sampe akhirnya dia enggak tahan, dan memilih untuk menjadi pengajar privat saja, yang menurut pandangan orang lebih terhormat dan bersih.

Saya termasuk orang yang enggan banget buat ngelamar pekerjaan. tapi saat saya resign dari kerja, kemudian sempet menganggur beberapa saat, kemudian bisnis saya juga berkembangnya cukup lambat, padahal kebutuhan hidup sudah mengejar-ngejar setiap hari.  muncul lah ide untuk ikut-ikutan melamar kerja, hampir setiap hari saya membeli koran dan yang saya baca hanya lowongan pekerjaan. Setiap 2 hari sekali saya mengirimkan lamaran lewat pos. Sampai saya akrab sekali dengan petugas pos. Panggilan wawancara akhirnya datang beruntun, dengan berbagai macam posisi yang saya lamar. Beberapa hari sebelumnya saya sempat sangat tertarik dengan posisi supervisor marketing, di sebuah perusahaan periklanan. Ya, karena perusahaan tersebut  namanya berakhiran “Advertising” maka ketika panggilan wawancara datang, saya senang sekali. Bahkan sampai bermimpi bahwa pekerjaan saya nanti memimpin orang-orang kreatif untuk mendapatkan  tender-tender pembuatan iklan yang ditayangkan di TV.

Saat memasuki halaman parkir perkantoran tersebut, saya sudah menerka-terka, pasti orang2 di dalamnya super sibuk, penuh dengan meeting-meeting orang berdasi, cewek2 cakep, eksmud-eksmud metro, heheh…ya sebagian bayangan saya bener, ada cewek cakep dan cowok-cowok metro berdasi. Begitu kami, para pelamar, sudah berdatangan, salah seorang cowok berdasi, menghampiri kami dan mengabsen nama kami satu persatu. Nah, di sebelah saya ada seorang cowok pelamar juga, yang entah kenapa dia sepertinya salah kostum. Cowok berdasi yang ternyata kalo gak salah posisinya supervisor tadi, tiba-tiba mengahmpiri cowok yang di sebelah saya dan nanya “hei, kok kamu pake celana jeans, emg kamu kemaren gak ngedengerin persyaratannya?yg namanya wawancara kerja ya pake pakaian yang formal dan sopan dong” trus dengan malu2 dan takut cowok salah kostum ngejawab “ maaf mas, emm…saya gak tau kalo Jeans tu gak formal. lagian celana saya Jeans semua”

“ oh, kamu belum pernah bekerja ya sebelumnya, masa gak tau, kalo Jeans itu gak formal?”dengan tatapan muka sok garang dia masih adu debat dengan cowok salah kostum, yg akhirnya semakin malu banget, karena dilitain banyak orang.

Tanpa ba bi bu ba, supervisor tadi mengumpulkan para pelamar untuk dibrifing. “ sebelum wawancara dilakukan, maka anda semua harus menjalani tes dulu yaitu tes lapangan” wah, bayangan saya, tes lapangan itu tes fisik, kita disuruh lari sekian ratus meter dengan pake baju resmi dan sepatu high hills. Heheh..ternyata itu tidak terjadi. Yg terjadi adalah kita disuruh untuk ikut para sales menjual produk. Tanpa pembekalan apapun, kami diterjunkan ke lapangan bersama para sales, sampai siang. Dan anehnya, para supervisor  tadi, juga ikut terjun ke lapangan dengan menjadi sales..

Loh..kok bisa?sinting banget ini perusahaan?wah gak tau yah,,,,no comment deh..saya hanya bilang ini sedikit menggelikan.saya sudah mencium bau aneh, tapi bukan bau busuk, bahwa orang-orang yang kelihatan ganteng dan cantik ini kurang berotak. Heheh..maaph yah..

Ternyata, si cowok salah kostum, menghilang dengan misterius, mungkin saking malunya, atao emang dia udah ngerasa Ilfill banget sama orang-orangnya atau juga dia ngerasa gak cocok setelah ngeliat kantornya. Gak tau deh, pokoknya waktu itu dia langsung kabur, tanpa meninggalkan jejak.

Saya didampingi oleh seorang supervisor cewek, sebut aja namanya vina, dan kebetulan mendapatkan area di lokasi yang tidak begitu jauh dari kantor. Di sebuah pasar tradisional. Dalam hati saya sudah khawatir banget. Gila aja, ini bisa merusak reputasi saya, kalo ketemu klient-klien saya. Saya sempet menyaksikan si supervisor tadi mendemokan produknya kepada para pedagang pasar, dan akhirnya mendapatkan order. Dalam panas matahari yang menyengat kulit kami yg bersinar bercahaya, cieleee…karena di dalam lapisan epidermis dipasangin lampu LED…hehehe….si supervisor tadi terus berjalan, dan saya mengikutinya dari belakang. Saat itulah saya bisa bertanya banyak hal. Akhirnya saya mendapatkan kesimpulan kalo prusahaan ini bukanlah prusahaan periklanan seperti yang saya bayangkan, tapi sebuah perusahaan pemasaran yang memasarkan produk-produk jepang, melalui Direct  Selling. Usut punya usut, berdasarkan cerita si vina, kayakna dia juga korban obral janji, tapi si cewek ini memang menikmati banget kerjaanya. Menurutnya, dia akan naik jabatan setelah 3 bulan bekerja seperti sales.

Saya sudah mulai capek, karena kondisinya sangat panas, dan saat itu saya juga lagi terserang flu, maka saya minta ijin sama vina, yg ditugasin buat dampingin saya, untuk break sebentar. Padahal saat itu baru jam 10.30. awalnya vina gak ngijinin, dia bilang suruh nunggu sampe jam 12 baru boleh break, dan sy pura-pura aja udah mau pingsan, akhirnya saya boleh break satu jam, setelah itu saya harus ngubungin dia biar dijemput lagi.heheh…saya malah kabur. Lega rasanya  bebas dari perusahaan aneh tadi.

Ya, saya tidak berusaha menyalahkan ini perusahaan, bahkan saya mengagumi kegigihan para salesnya. Mereka orang-orang luar biasa. Salut deh buat vina dkk yang rela berpanas-panasan demi mencukupi kebutuhan keluarga.namun, hal yang perlu diwaspadai sebagai pelajaran hidup adalah hendaklah kita enggak gampang percaya sama iklan lowongan  kerja di koran. Tawaran-tawaran posisi yang dijanjikan kemungkinan besar sengaja direduksi. Misal anda melamar sebagai manager, paling-paling waktu wawancara anda akan ditawari untuk bekerja dulu sebagai staff selama sekian tahun, baru dijadikan manager pada tahun ke sekian, itupun kalo anda masi betah di sana.

Bagi saya, sampai hari ini, enterpreuner tetap pilihan yang tepat dan lebih menjanjikan. Untuk belajar ilmu pemasaran, skill dasar yang harus dimilki oleh kaum enterpreuner, bisa diperoleh dengan menjadi agen asuransi, bergabung di MLM tertentu, atau menjadi broker di perusahaan property.

Categories: cerita kehidupan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: