DIKADALIN SCIZOPHREN

Pernah denger tentang schizophrenia?sebagai orang kesehatan masyarakat, aku agak awam dengan penyakit-penyakit gangguan kejiwaan kayak gini. Aku sempet penasaran banget sama disorder yang satu ini, makanya aku sempet searching dan cari literatur sana sini.

Sebenernya aku merasa malu banget menceritakan pengalaman ini, yang terjadi sekitar sebulan yang lalu. Sebagai orang waras, aku malu banget lah, bisa-bisanya dikadalin sama orang gila. Tapi, setelah ku pelajari dengan detail gejala penyakit ini, beberapa orang yang pernah kutemui sebelumnya juga memiliki kecenderungan kayak gini. So, kayaknya perlu banget dipublish untuk membuat kita smua waspada, bahwa di sekitar kita mungkin banyak schizofren yang perlu untuk ditolong.

Awalnya dari sebuah pertemuan komunitas bisnis di semarang, yang aku datengin. sekitar setahun yang lalu, aku mulai aktif gabung di komunitas ini, karena waktu itu aku punya bisnis di bidang fashion, aku pikir aku butuh banget komunitas diskusi kayak gini, biar ada yang support kalo ada masalah dalam bisnis aku. Semua orang, yang dateng di forum ini, pastinya juga pingin nambah relasi, makanya momen ini tidak dilewatkan sebagai ajang untuk tukar kartu nama, cari kenalan, cari relasi, dll…apalagi pertemuan ini terjadwal secara rutin setiap bulan.

Setiap orang baru yang membagikan kartu nama, apalagi memiliki bisnis yang kelihatannya sudah sukses, pasti dikerubutin banyak peserta yang lain yang mereka ingin ngobrol. Termasuk salah seorang wanita dengan kemampuan komunikasi yang menurutku luar biasa, dia mengaku sebagai public relation di sebuah komunitas besar , dan juga pengurus yayasan pendidikan besar yang ada di semarang. Penampilannya agak wah, dengan usia yang relatf muda, ditambah kemampuan komunikasi yang lumayan oke,membuat sosok yang satu ini bener2 menarik dan layak untuk didekati. Dia pun kelihatan low profile, dan mau melayani setiap orang yang bertanya tentang dirinya.

Saat acara selese, dia masih ngobrol dengan yang lain, aku sudah bersiap pulang dan menghidupkan motor. Tiba-tiba dia memanggilku, dan menceritakan kalo dia baru saja ditingal temannya, karena temannya itu ada keperluan, dia mau nebeng dan turun di jalan yang aku lewatin. Terus terang aja, wktu itu aku belum hafal nama-nama jalan yang ada di semarag, sehingga aku iyakan aja.padahal ternyata rumah dia itu jauh banget, hampir perbatasan dengan luar kota.aku tdk mempermasalahkan meskipun aku dikerjain. Aku sudah cukup merasa beruntung bisa kenal dengan orang hebat kayak gini.

Sambil aku boncengkan, dia bercerita banyak hal, dari mulai kedekatannya dengan pengusaha2 di semarang, sampe sepak terjang yayasannya yang beberapa tahun ini pencapaianya sangat gemilang. Aku semakin mengagumi wanita ini. Gaya bicaranya juga perfect, kadang naratif banget, sampai aku terlena pingin tidur ngedengernya, kadang juga persuasif, membuatku pingin ngelakuin apa yang dia sarankan. Hehe…

Pertemuan kedua kami terjadi beberapa bulan setelah itu. Aku sempat mencari-cari dia sebelumnya, jadi waktu ketemu, aku menyapanya lebih dulu, tapi agaknya dia sudah lupa. Aku maklum aja, memang dia orang penting, pikirku. Meskipun dia agak lupa, tapi dia gampang mencairkan suasana, dia minta maaf, dan langsung akrab lagi, seperti saat pertama kita ketemu di komunitas ini juga.

Sebelum aku tanya banyak hal, dia sudah bercerita lebih dulu tentang perkembangan yayasannya, bahkan sekarang Akademi kebidanan yang bernaung di bawah yayasannya muridnya bertambah banyak, dia juga sibuk dengan proyek baru lagi yang berkutat di bidang pendidikan. Aku sangat menikmati obrolannya yang terasa sangat bersemangat. Karena dia sudah merasa akrab, dia mulai bercerita hal-hal pribadinya, seperti calon suaminya yang juga pengajar di yayasan yang sama, perkembangan karirnya yang gemilang dalam bebraap bulan ini, dia ceritakan dengan penuh semangat. Aku pikir, di layak menjadi seorang motivator. Senang rasanya aku bisa mengenalnya.

Aku benar-benar tertarik dengan smua yang dia ceritakan, bahkan dia mengundangku untuk datang dan melihat-lihat yayasan pendidikannya itu. Aku memang sudah pernah dengar sebelumnya, yayasan itu, karena terletak di jalan yang sering aku leawtin ke tempat kerjaku. Hingga kami menyepakati hari dan jam untuk ketemuan di sana. Yang lebih membuatku seneng banget, dia juga menawariku untuk mengajar ilmu gizi di Akbid. Kayakna sebuah langkah awal yang menarik, mreskipun aku gak punya cita2 ngajar. Dia juga menyebut nama seorang ulama, pemilik yayasan itu, yang menganggap dia sebagai anaknya sendiri. Lengkaplah sudah keberuntunganku, kataku dalam hati.

Aku sengaja datang 15 menit lebih awal dari wktu yang kita sepakati, setelah aku menunggu cukup lama, dia belum datang juga. Aku sempet rikuh karena yang ku lihat smuanya laki-laki yang berlalu lalang, akihirnya kuberanikan untuk bertanya, nama wanita itu. Smua cowok yang kutanya menatapku dengan heran, memang wanita itu sering di yayasan itu, tapi lanjut cowok itu, dia bukan pengurus yayasan. Bahkan salah seorang pengajar yang dari tadi hanya mengamatiku dari lantai dua, memandangiku dari aku datng, sampai aku menunggu di teras masjid, sampai akhirnya aku miondar mandir dia masih memandangiku, akhirnya turun dan ikut nanyain aku.

Dari penuturan si pengajar yang kuperkirakan umurnya sekitar 27 tahun ini, aku memperoleh info bahwa wanita yang membuat janji denganku itu dianggap aneh.

Awalnya aku merasa agak rikuh dan merasa kayak pencuri yang lagi diinterograsi. Terang aja, blum apa-apa si cowok yang ternyata pengajar ini gaya pertanyaanya kayak polisi

“ mbak mau apa ketemu bu vina (samaran)?ada perlu apa?”

“mbak tau gak, kalo dia bukan pengurus yayasan ini, dan mbak sudah orang ke sekian yang mencari dia dengan mengatasnamakan yayasan ini”

Kata-katanya yang pedas terus meloncat dari mulutnya, membuatku semakin merasa bahwa dia bukan orang yang cukup beradab untuk diajak bicara .Tapi aku berusaha tetap rileks, dan mencoba tetap berpikir waras.

“dia itu aneh, mungkin menurut saya, dia menderita sejenis penyakit gila yang entah apa namanya. Karena orang2 sebelumnya yang mencari dia ke sini, juga diceritain kalo dia pengurus yayasan ini”

Aku smakin tertarik dengan cerita lelaki ini, mskpun dia tidak memilki sopan santun sama sekali.

Dari mulutnya akhirnya aku tau bahwa wanita ini (vina) tidak beres. Aku juga menceritakan detail awal pertemuanku, sampai dia mengundangku untuk datang ke yayasan ini. Terlihat yayasan ini memang sangat besar, yag terdiri dari pondok pesantren putra dan putri, SMP dan SMK, Akbid, dan beberapa lini usaha seperti percetakan dan biro haji.

Lelaki ini sebut saja doni, dari mulut doni, aku tau bahwa vina juga mengaku sebagai calon istri doni dan pada orang lain dia mengaku sebagai tangan kanan ketua yayasan. Padahal, dia hanya penduduk biasa yang sering datang ke pondok untuk berkonsultasi masalah psikologisnya dengan ketua yayasan.

Aku semakin penasarn, dan aku menelfon vina, bahwa aku sudah datang dan menunggu dia di masjid depan kantor yayasan, seperti perjanjian kita kemaren. Tak lama berselang, vina datang dengan tergopoh-gopoh dan meminta maaf atas keterlembatannya. Tapi dia tidak tau bahwa seseorang sudah membuka semua keganjilannya. Vina sempat bertanya, siapa saja yang kutemui sebelumnya?aku bilang, aku hanya ketemu beberapa murid pondok, yang mempersilakan aku menunggu di halaman masjid.

Aku diajak untuk ke rumahnya yang ternyata hanya rumah kontrakan, tanpa kuminta dia menceritakan semua masalah pribadinya, disuir dari keluarganya, rasa cintanya yang mengebu-gebu pada doni, doni yang menurut dia mencintainya habis-habisan tapi tetap menjaga sikapnya, sampai kedekatannya dengan sang pemilik yayasan yang dianggap ayahnya sendiri.gila, haluisnasinyaa benar-benar sempurna. Bahkan dia menyebutkan dengan pasti tanggal dan bulan yang direncanakan untuk menikah dengan doni. Halusinasi yang sempurna, bahkan orang waras sepertiku tidak menaruh curiga sedikitpun kalo itu hanyalah halusinasi.

Aku diajak masuk ke kamarnya, aku hanya ingin menjawab rasa penasaranku. Aku belum pernah menyaksikan langsung kehidupan scizophren yang hebat seperti ini. Barang-barangnya tertatata rapi, sebuah foto laki-laki yang diimpikannya yang dipajang persis di dinding samping tempat tidur. Dia usianya yang ke 31 ini, dia berharap doni lah lelaki yang benar2 akan menjadi pendamping hidupnya.

Tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu setelah sebelumnya bercerita tentang doni dengn tersenyum-senyum. Kali ini dia bercerita tentang pengusiran dirinya oleh keluarganya. Dia diusir oleh kakaknya dan semua iparnya, hanya ibunya yang menginginkan dia tetap di rumah. Bahkan, saat inipun dia mengaku hanya memilki uaang 20 ribu, yang dia tunjukkan. Dia berniat meminjam uang 150 ribu, aku kasihan banget, tapi apa boleh buat. Aku hanya membawa uang tunai sekitar 70 ribu. Aku berikan saja yang 50 ribu.

Meskipun dia sudah bohong padaku, tapi entah kenapa aku gak sakit hati sedikitpun, karena aku sadar, ada yang gak beres dengan kejiwaan orang ini. Aku justru ngerasa kasihan banget. Dia cantik, dengan kemampuan komunikasi yang mengagumkan, tapi sayang dia tidak bisa membedakan antara fakta, ilusi dan halusinasi. Inilah yang disebut schizophrenia.semua yang dia ceritakan dengan tersenyum penuh kebanggaan, berapi-api, kadang juga dengan sendu diiringi air mata, ternyata hanyalah sebuah ilusi dan halusinasi…..

Categories: Uncategorized | Tags: , , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “DIKADALIN SCIZOPHREN

  1. indah

    yaudah mbk ane tinggalin koment
    “ment tak tinggal ya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: